"La, have fun, yuk?"
"Gue lagi dateng bulan, Yos."
Lama LAPAK303 aku terpaku pada layar laptop yang sejak tadi tidak juga membuahkan satu alinea baru. Skripsiku mandeg di bab dua, karena ajakan Yose barusan yang menghancurkan mood baikku.
"Ga ada alesan lain, La?" Yose mulai mengecup pangkal leherku, dan meski enggan bercinta malam ini tetap saja sensasi dari sentuhan bibirnya di leherku mampu menimbulkan getaran yang aneh, "Ini masih tanggal sepuluh, lo, kan, PMS-nya akhir bulan?"
Tangan Yose semakin berani bermain, mulai dari pinggul lalu naik ke atas. "Ok-ok! Just one round. I have to finish this, Yos," kutunjuk layar laptop yang masih bergeming sejak tadi.
"Ok, just one round. Jangan minta nambah aja nanti."
Jika boleh kukatakan, sejujurnya aku jenuh mendengar ajakan have fun hampir tiap malam. Namun, entah sejak kapan aku tidak pernah bisa menolak ajakannya, meski tahu Yose hanyalah sahabatku. Entah sejak kapan sentuhannya menjadi candu yang sangat menyiksa jika tidak kudapatkan.
Maka malam itu, kami berakhir kelelahan pada pukul empat dini hari. Just one round yang tadi kami sepakati telah berlipat-lipat ganda. Bab dua skripsiku yang harus diserahkan siang ini, terbengkalai begitu saja.
"Gue tidur di sini, ya? Udah lama ga tidur sambil meluk Neng Geulis ini," rayunya sebelum ia terlelap sambil memelukku.
Asal kalian tahu saja, baru dua hari yang lalu ia tidur di kamarku, dia bisa bilang itu udah lama? Harusnya kamarnya itu disewakan saja supaya ada manfaatnya!
Mungkin kalian akan bertanya-tanya hubungan seperti apa yang kami jalani sekarang. Perlu kugaris bawahi, kami hanya sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Well, sahabat sejak kecil, sejak kami masih sama-sama bermain rumah-rumahan.
"Yos...."
"Hmm...."
"Awas dong, tangannya! Gue mau lanjut nyelesein skripsi, nih." Dengan sekuat tenaga aku berusaha memindahkan tangannya yang mendekap erat tubuhku.
"Ga mau! Gue mau meluk Neng Geulis dulu malam ini."
"Iya tapi masa depan gue nanti siang taruhannya, nih."
"Masa depan lo sama gue. Nanti gue aja yang kerja. Tugas lo tinggal anteng di rumah, masak, sama nemenin gue tiap malem," jawabnya santai.
Aku ragu ia sedang benar-benar sadar atau tidak. "I'm not your slave," omelku dengan agak sedikit kesal.
"Jelas! Lo kan, sahabat gue."
***
Keesokan siangnya di kampus. Telingaku perih dan bahkan hampir berdarah akibat terlalu lama mendengarkan omelan Prof. Karni.
"Masa menguraikan tentang komunikasi verbal dan non-verbal saja tidak bisa diselesaikan satu malam! Kamu niat sidang semester ini atau tidak, La?"
"Niat, Prof, tapi tadi malam saya harus jagain kakak saya yang sakit. Betulan, Prof, ga bohong saya." Maaf, Prof, saya bohong barusan, dari setengah jam yang lalu, sih, sebenarnya.
"Sudah-sudah, saya masih ada janji lain. Saya tidak mau tau, dua hari lagi saya minta kamu datang dengan bab dua yang sudah selesai, dan tanpa alasan kakakmu sakit lagi. Sanggup?"
Aku mengangguk ngeri.
"Buku tentang sinematografi yang kamu cari sudah ada, tapi masih dipegang asisten saya. Kamu langsung hubungi dia saja." Mendengar kabar tersebut senyumku merekah. Biar galak-galak begini, dosen pembimbingku ini tidak segan untuk mencarikan referensi buku-buku yang kubutuhkan. Sepertinya sidang skripsiku tidak akan tertunda lagi kali ini, itu pun jika Yose berhenti menghasutku untuk bobo bareng setiap malam.
"Bab duamu tidak akan selesai hanya dengan senyuman, Non." Senyumku seketika tenggelam. Dosen pembimbingku ini memang judes ternyata.
Setelah Prof pergi, ponselku berbunyi. Awalnya kukira Yose yang akan mengajak makan ketoprak sesuai dengan janjinya tadi pagi, teetapi ternyata yang masuk adalah pesan berisi nomor telepon asisten Prof. Karni.
Masih ada dua hari, aku bisa mengambil buku itu besok. Hari ini aku harus mengisi staminaku yang terkuras habis akibat tadi malam. Yoselah dalang yang harus bertanggung jawab atas perutku yang keroncongan.
Yos, di mana?
Selama beberapa menit kutunggu balasan darinya, tapi tidak kunjung ada balasan. Kutelepon dua kali pun, ia tidak menjawab. Akhirnya kutelepon Dinar, teman kantornya. Dinar bilang Yose tidak masuk kerja, bahkan sekarang sedang dicari oleh bos mereka karena ia terlambat menyerahkan revisi artikel mingguan. Ngomong-ngomong, sahabatku itu adalah seorang editor di salah satu media cetak nasional. Ngomong-ngomong lagi, ke mana perginya manusia ini?
Hanya ada satu jawaban, ia pasti sedang berada di tempat pacar pramugarinya, aku berani bertaruh. Ya sudahlah, sebagai sahabat yang baik dan pengertian, hari ini aku tidak akan mengganggu kemesraan mereka, toh nanti malam Yose akan tetap datang ke kamarku.
Sesaat aku tertegun memikirkan kata hatiku barusan, apa maksudnya toh nanti malam Yose akan tetap ke kamarku?
"Inget, La, lo itu sahabat, bukan sebatas temen bobo tiap malem, doang." Kukatakan hal tersebut pada diriku sendiri agar tidak keluar dari pakem persahabatan yang sewajarnya, meskipun sebenarnya, kami memang sudah keluar jalur sejak lama.
Sebelum pulang ke rumah, aku mampir untuk membeli ketoprak yang sudah sejak pagi kuidam-idamkan. Dua porsi, untuk aku dan Yose, jika ia sudah pulang nanti.
Rumah yang kami berdua tinggali selama masa studi adalah rumah milik keluarga Yose. Rumah satu lantai bergaya khas bangunan kolonial dengan dua kamar tidur besar ini adalah hasil pembagian harta saat orang tua Yose LAPAK303 bercerai.
Lihat kan, betapa percayanya orang tua kami, sampai mengizinkan kami tinggal satu atap begini? Andai mereka tahu, kejadian apa saja yang telah terjadi selama kami tinggal berdua di dalam sana.
Kuintip dari jarak yang agak jauh, mobil Yose tidak ada di garasi. Berarti dugaanku tidak meleset, pacar pramugarinya sedang libur dan mereka berdua saat ini pasti sedang having fun.
"Inget, La, lo itu sahabat, ga boleh cemburu." Lagi-lagi kusugestikan diriku sendiri agar tetap berada di jalur yang seharusnya.
Sejujurnya, pikiran-pikiran menjurus ke ciri wanita sedang cemburu ini sudah kurasakan sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, sejak Yose berpacaran dengan teman satu kelasnya di Jurusan Sastra Indonesia. Meskipun begitu, status sahabat kami tidak pernah berubah. Tetap menjadi sahabat, tidak bisa lebih dan tidak boleh kurang.
"HOLY SHIT!" pekikku setelah memasuki rumah. Ketoprak yang masih hangat, terlempar ke lantai begitu saja, ketika kulihat meja makan tidak difungsikan seperti seharusnya.
"Lala!" seru keduanya berbarengan. Secepat kilat si pramugari langsung menarik asal pakaian yang ada di dekatnya.
"Kalian ga ada tempat lain yang lebih wajar buat nge-sex? Kelewatan!"
Kepalaku langsung menjadi panas, emosiku meledak. Bukan hanya karena mereka melakukan hal itu di tempat yang tidak wajar, tapi juga karena Yose mengabaikan janji ketopraknya tadi pagi, hanya karena pacar pramugari tinggi semampainya itu. Aku cemburu! Cemburu seorang sahabat yang merasa diabaikan. Catat itu!
Amarah yang memuncak, membuatku langsung masuk ke dalam kamar. Aku tidak mau melihat adegan saling bantu memakaikan pakaian masing-masing oleh dua sejoli di ruang makan itu. Masa bodo dengan mereka! Masa bodo juga dengan ketoprak yang berhamburan di lantai! Itu tugas Yose untuk membersihkan lalu membelikan yang baru!
"La?" Yose mengetuk pintu kamarku, perlahan kepalanya muncul dari balik pintu. "La, marah?"
Aku bergeming.
"Dia udah gue suruh pulang kok, La," lanjutnya lagi. Akan tetapi, aku tetap bergeming.
"Udahan ya marahannya?" Yose mendekat untuk menenangkanku, tetapi kutepis tangannya dengan kasar sebelum ia meraih pipiku.
"Ga lagi-lagi deh, ngajak dia ke sini. Tapi beneran, La, dia udah gue suruh pulang. Hus…hus…" Yose menirukan gerakan mengusir ayam.
"Bukan itu masalahnya, bego!"
"Lo cemburu, ya?" tanya Yose hati-hati.
"Ga usah kepedean." Teman-teman maaf kalau aku jadi seperti remaja labil yang sedang mencari perhatian kekasihnya. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku.
"Terus apa, dong? Maaf, La, ga lagi-lagi. Sumpah, deh."
Dimaafin. Dalam hati aku menjawab, tetapi masih gengsi untuk mengutarakannya.
"Atau gue putusin aja dia, ya? Gue telepon dulu!" Yose mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Pantas saja panggilanku dari tadi tidak dijawab, ternyata ponselnya ada di dalam celana, dan celananya tadi sedang tersampir asal di atas kursi. Great, Yose.
"Ga usah!"
"Duh, cewek kalo ngambek gini amat, ya? Terus gue mesti gimana dong, La? Lo kan, jarang-jarang ngambek gini, gue belum ahli jinakinnya."
"Lo pikir gue hewan buas?!" Emosiku kembali memuncak, yang untungnya tidak separah tadi.
"Ya, terus gimana supaya lo berenti ngambek? Kalo lo suruh gue untuk putusin dia, gue putusin sekarang, nih."
"Ketoprak gue udah ga bisa dimakan, Yose…ngantrinya lama banget tadi." Lagi-lagi aku berbohong. Hari ini sudah dua orang yang kubohongi.
"Ya astaga, gue kira marah kenapa. Oke, tunggu bentar, gue beli ketoprak dulu." Yose segera bergegas mengambil dompet di kamarnya, ia tidak sadar kalau sekarang masih bertelanjang dada.
"Idiot! Pake baju dulu kalo mau keluar!" seruku dari dalam kamar sebelum ia keluar rumah dan dianggap gila oleh para tetangga.
Untuk saat ini tolong jangan menghakimiku. Karena aku juga tidak mengerti cemburu seperti apa yang sedang kurasakan sekarang. Mungkin kecemburuan seorang sahabat, mungkin juga tidak. Mungkin karena melihat pria yang biasanya menyentuhku malah menyentuh wanita lain, mungkin juga benar karena ketoprak.
"Inget, La, lo sama Yose itu sahabat, ga boleh baper-baperan,” gumamku LAPAK303 sekali lagi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar