Cerita Dewasa kali ini menceritakan tentang SLOT GACOR MAXWIN kisah Cerita Sex Imelda Yang Seksi , cerita ini merupakan kisah nyata yang di alamin oleh salah satu penulis cerita yang di tuangkan menjadi sebuah cerita sex yang membuat nafsu gitu mengebu ngebu. Silahkan di simak langsung Cerita 17+ kali ini :
Cerita Sex Imelda Yang Seksi – Namaku Anto ( nama samaran) seorang karyawan swasta berumur 33 tahun. Dalam kehidupan pergaulan sehari-hari saya sering menjadi perhatian di lingkungan tempat saya bekerja, selain pergaulan yang luwes, saya memiliki postur yang bisa dikatakan lumayan. Dengan warna kulitku yang putih, tinggi 170 dan berat sekitar 67 Kg serta single, tidaklah sulit bagi diriku untuk mencari teman-teman baru.Di perusahaan tempat saya bekerja, ada salah seorang teman wanita yang (pernah) menjadi perhatianku. Sebut saja namanya imelda. Dalam pergaulannya, imelda juga seorang yang luwes, oleh sebab itu dia di tempatkan oleh pimpinan perusahaan di bagian marketing, yang sebelumnya adalah teman satu bagian dengan saya.
Awal tahun 2003 yang lalu imelda melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman kuliahnya. Walaupun sekarang sudah menikah, imelda tetap seperti yang dulu, luwes dan anggun. Walaupun postur tubunya bukanlah tipe seorang yang bertubuh tinggi dan langsing, tapi dia memiliki kharisma tersendiri. Dengan kulit yang putih bersih, buah dada sekitar 34 serta betis yang indah, senyumnya yang menawan, tidak mengherankan bila menjadi perhatian para lelaki.
Awal kedekatan diriku dengan imelda sejak dia bekerja pada bagian yang sama denganku 3 tahun yang lalu.
Sejak dia pindah bagian (lantai berbeda walaupun dalam satu gedung) dan menikah, saya jadi jarang sekali bertemu. Paling hanya berbicara melalui telpon atau saling kirim email. Kami sering bercakap-cakap mengenai kantor dan kadang-kadang menjurus ke hal yang pribadi. Karena imelda kadang-kadang berkeluh kesah mengenai masalah-masalah kantor, yang sering membuat pikirannya cemas. Dan hal itu terbawa dalam keluarga. Rasa cemas imelda terkadang memang berlebihan, yang membuat sampai awal tahun 2004 ini belum ada tanda-tanda bahwa dirinya hamil.
Setiap ada anggota keluarga atau temannya yang bertanya mengenai hal itu, menambah gundah dirinya. Segala upaya termasuk konsultasi kepada dokter sudah dilakukan, tetapi hasilnya tetap nihil. Rasa cemas dan bersalah timbul pada diri imelda, karena selalu menjadi bahan pertanyaan khususnya dari pihak keluarga. saya sering kali memberi semangat dan dukungan kepadanya untuk selalu belajar menerema apa adanya dalam situasi apapun. Bila ada sesuatu pikiran yang membuat gundah imelda, saya selalu dapat membuat dirinya lupa dengan masalahnya. saya selalu dapat membuat dirinya tertawa, dan terus tertawa. Pernah suatu ketika, imelda tertawa sampai berlutut dilantai sambil memegang perutnya karena tertawa sampai keluar air mata dan sakit perut!!
Suatu hari (aku lupa persisnya) minggu ke 2 di bulan Februari 2004 yang lalu, imelda menelponku melalui HP. Pada saat itu saya baru saja sampai di rumah, setelah seharian bekerja.
“Haloo mel.. Lagi dimana lu? Tumben nih malem-malem nelpon, hehehehe..” kataku kemudian.
“Lagi di rumaah. Lagi bengong-bengong, laper and cuapek buanget nih, tadi sayaada meeting di
Kuningan (jalan kuningan-Jakarta) dari siang, lu sendiri masih dikantor?” kata imelda kemudian.
“Nggak laah, baru aja sampai di rumah. Eh, lu dirumah bengang-bengong ngapain sih? Emang di rumah lu kaga ada beras, sampai kelaperan gituh?” candaku kemudian.
Disana imelda terdengar tertawa renyah sekali,
“Hehehehehehehe.. Emang benar-benar nih anak!! sayacapek karena kerja! Terus belum sempet makan dari pulang kantor!!”
“Oooooo, gitu. sayakira lu capek karena jalan kaki dari kuningan ke rumah!” kataku kemudian.
“Eeeeee, enak aja!! Ntar betis sayabesar sebelah gemana?”
“Lhaaaa kan, tadi sayabilang jalan kaki, bukan ngangkat sebelah kaki terus loncat-loncat? Kenapa betis lu bisa besar sebelah?”
Disana imelda hanya bisa tertawa, mendengar kata-kataku tadi.
“Sudah lu istirahat dulu Nit, jangan lupa makan, mandi biar wangi. Seharian kan sudah kerja, capek, ntar kalau lu dikerjain ama laki lu gemana, sementara sekarang aja lu masih capek?” saya bicara seenaknya saja sambil meneguk minuman juice sparkling kesukaanku.
“Kalau itu mah laeen.. sayaenjoy aja!! Nggak usah mandi dulu laki sayajuga tetep nempel. Lagian sekarang laki sayanggak ada, kok. Lagi ke Australia..” kata imelda kemudian.
“Ke Autralia? Wah, enak amat! Gini hari jalan-jalan kesono sendirian, lu kok kaga ikut? Ngapain Nit, beli kangguru ya?” tanyaku seenaknya.
“Eh, ni anak dodol amat sih!! Urusan kantornya lah!!” kata imelda sengit, sementara saya hanya cekikikan mendengar imelda berkata sengit kepadaku.
“So anyway, seperti pertanyaan sayatadi, lu tumben Nit, malem-malem gini telpon. Baru kali ini kan?” tanyaku.
“Iya, sayamau ngobrol aja ama lu. Abis disini sepi.. nggak ada yang bisa diajak ngomong” lalu imelda menceritakan apa-apa saja yang menjadi pembicaraan dalam meeting tadi.
Seperti biasa, saya diminta pendapat dalam masalah kantor yang sedang ditangani, dalam sudut pandang saya tentunya.
Tak terasa, kami berbicara sudah satu setengah jam yang kemudian kami berniat mengakhiri, dan berjanji akan di teruskan esok harinya di kantor.
Sebelum saya menutup telpon, tiba-tiba imelda menanyakan sesuatu kepadaku,
“Eh, saya mau tanya dikit dong, boleh nggak? Tapi kalau lu nggak mau jawab, nggak apa-apa..”
“Apa?” tanyaku kemudian.
“Maaf Nto, kalau saya boleh tanya, Hmm.. Lu pernah ML nggak?”.
Mendengar pertanyaan seperti itu saya sedikit kaget, karena walaupun pembicaraan saya dan imelda selalu apa adanya dan kadang bersifat pribadi, tapi belum pernah seperti ini.
“Ngg, pernah.. Kenapa Mel?” tanyaku ingin tahu.
“Nggak, cuma tanya doang.. Lu pertama kali ML kapan, pasti ama cewe lu yah?” tanya imelda.
“Gue pertama kali ML waktu SMA, sama teman bukan ama cewe gue, lu sendiri kapan?”
Mendengar jawaban ku tadi imelda langsung berkata,
“Gue sih, waktu kuliah. Itu juga setelah TA, sama Randy (suaminya). Rasanya gemana Nto, ML pertama kali?” tanya imelda.
“Lhaah, lu sendiri waktu ML pertama kali gemana?”.
“Awalnya sih, sakit. Tapi enak juga.. Hehehe. Abis Waktu itu Randy buru-buru amat. Maklum waktu itu kami takut ketauan..”.
“Emang lu ML dimana, di kantor RW?”
“Hahaha, nggak lah!! saya lakuin di ruang tamu rumah saya sendiri. Waktu itu lagi nggak ada orang lain. Pembantu sayajuga lagi keluar rumah”
“Wah, ternyata waktu saya ke rumah lu kemarin, sayanggak sangka duduk di sofa yang pernah digunain untuk perang antar kelamin..”
Imelda hanya tertawa mendengar celotehanku itu.
Kemudian kami saling bercerita mengenai pengalaman JUDI LAPAK PUSAT kami masing-masing, sampai dengan masalah posisi yang paling disukai dan yang tidak disukai photomemek.com dalam berhubungan intim. Kami juga sama-sama bercerita kalau kadang-kadang melakukan masturbasi apabila keinginan sudah menggebu dan tidak tertahankan.
“Wah, Nto.. kalau lu abis mastur, jangan dibuang sembarangan dong, kasiankan, anak lu pada teriak-teriak di got. Mending lu bungkus terus kirim ke sayaaja, kali-kali bermanfaat”
“Emang lu mau sperma gue, bawanya gemana? Dibungkus? Kaya bawa nasi rendang! Kirim lewat apa dong? Mending langsung tuang ke lu langsung. Praktis dan nyaman, hehehehe”.
“Week, mengharap amat! Lu yang nyaman, tapi sayayang nggak aman!! Nggak, saya cuma mau sperma lu aja” celetuk imelda dengan sengit.
“Sudah ah, saya mau mandi dulu terus tidur, besok kita kan masih kerja..” kata imelda kemudian.
Setelah itu kami sama-sama berpamitan untuk menutup telpon.
TGF (Thanks God is Friday), hari itu saya melakukan seperti biasanya. Walaupun saya terasa mengantuk, tapi saya senang dan bekerja dengan semangat sekali karena besok dan lusa libur. Seperti janji semalam, saya makan siang dengan imelda untuk melanjutkan pembicaraan masalah kantor yang sedang dihadapinya. saya dan imeldapun berangkat bersama, menuju restoran yang menyajikan masakan Thailand di bilangan Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan dan di tempat tujuan pembicaraan kami hanya berkisar masalah pekerjaan yang serius, sekali-kali bercanda dan tertawa. Tidak ada satupun topik yang mengungkit-ungkit pembicaraan akhir di telepon semalam. Sampai pada saat kami diperjalanan pulang, kami hanya diam seribu bahasa. Mungkin karena imelda masih mengingat pembicaraan yang tadi dibicarakan. Kalau saya sih, sedang mengingat-ingat rencana apa yang akan dilakukan liburan nanti.
Entah apa yang ada di benak imelda, mungkin pusing liat kemacetan lalu lintas yang sedang dihadapi, maklum dia yang jadi sopir. Sementara saya bersantai-ria disampingnya sambil mendengarkan lagu slow R&B.
“Kenapa sih, kok ngelirik sayaterus?” kata saya tiba-tiba, karena saya perhatikan dari sudut mataku, imelda sering melirik ke arah saya.
“Ge-Er aja sih lu? sayacuma liatin jalan, bukan liat lu! Jalan kan macet, jadi sayabingung mau ambil arah mana?” celetuk imelda.
“Weleh, muka liat jalan, kok biji mata lu ke arah gue? Emang, tampang sayakaya pengamen yah?”. imelda tertawa mendengar celotehan saya tadi.
Kemudian dia berkata, “Nto, lu benar mau kirimin ke gue?”.
“Kirimin apa sih?”.
“Itu-tu, .. Pembicaraan kita semalem..” kata imelda.
“Tentang mastur..”
Aku langsung memalingkan wajahku ke imelda, bingung
“Mastur? Oooooo, yang itu. Emang kenapa sih Nit? Lu emang ingin benih gue?”.
“Sebenernya bukan itu, sayacuma ingin punya anak doang. Cuma sayabingung harus gemana?”
“Mungkin sekarang belum rezeki lu, kali Nit. Lu jangan nyerah gitu donk! Suatu saat nanti, kalau rezeki lu sudah dateng, pasti juga dapet kok. Sabar ajah, ya Nit” kataku.
“Jadi maksudnya, lu nggak mau kasih kesempatan ke gue? Maaf ya, Nto? Bukannya sayasudah kehilangan akal sehat, sayacuma mau tes aja. saya tahu lu orangnya bisa dipercaya. Apapun yang terjadi nanti, sayapercaya lu nggak berubah memandang diri gue. Tetep bisa jadi teman gue. Makanya sayaperlu lu”. agen poker
“Wah Nita, kalau nanti hamil beneran gemana? Serem aja kalau sampai ketauan.. sayakan, jadi nggak enak ama keluarga lu?”.
“Biarin aja, itung-itung sebagai bukti kalau sayabisa hamil!”.
Setelah imelda berkata tadi saya berpikir, si imelda gila juga nih, pikirku. saya tahu, kami memang sama-sama dekat, tapi hanya sebatas teman biasa. saya hanya takut, nanti setelah kejadian, salah satu dari kami bisa muncul perasaan berbeda. Walupun imelda percaya saya tidak seperti itu, tetap saja saya ragu. Memang saya tidak memungkiri, ingin sekali tidur dengannya. Tapi perasaan itu saya tahan, karena bisa merusak hubungan kami nantinya. Paling kalau sudah tidak terbendung, ujungnya hanya masturbasi. saya memang doyan sekali dengan yang namanya sex. Tapi saya tidak mau obral cinta demi sex semata. Oleh sebab itu, permintaan imelda ini bisa SLOT GACOR 2023 saja mengubah suasana.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar